1Langit malam dipenuhi bintang-bintang, tetapi keheningan yang mencekam melingkupi hutan di sekitar perkemahan rombongan Kane. Api unggun berkobar kecil, memancarkan cahaya hangat ke wajah-wajah pasukan yang sedang beristirahat.

Kane, komandan pasukan mereka, terlihat duduk sambil mengasah pisau kecilnya dengan menggunakan pisau lainnya. Luka panjang di pipi kanan wajahnya memberi kesan seorang pria yang telah menjalani banyak pertarungan. Tatapannya tajam, penuh perhitungan, seolah setiap goresan pada pisau tersebut menggambarkan cerita dari setiap pertarungan yang pernah ia hadapi. Suasana sekitar tenang, hanya terdengar suara lembut dari mata pisau yang saling bergesekan.

Di dekatnya, Freya, prajurit wanita dengan tubuh atletis hasil bertahun-tahun latihan. Perangkat helm yang biasa digunakan berada di samping kirinya. Terlihat rambut pirangnya bergelombang alami, jatuh hingga bahu, membingkai wajahnya yang cantik dengan mata biru tajam penuh kewaspadaan. Ia mengenakan pakaian tempur hitam ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya, dilengkapi berbagai perangkat canggih di lengannya, seperti pemindai holografis dan alat elektromagnetik. Posturnya tegas, dengan keanggunan yang memancarkan kekuatan dan kecerdasan. "Kita sudah terlalu lama di pulau ini," gumam Freya sambil memeriksa perangkat canggihnya. "Medan elektromagnetik yang kita ikuti semakin kuat."

Valen, prajurit wanita memiliki tubuh yang sama atletisnya dengan Freya, rambut hitamnya lurus yang diikat rapi, dan mata abu-abu tajam. Setiap gerakannya tenang dan percaya diri, mencerminkan keahlian tempur dan kecerdasannya. "Kita harus berhati-hati. Kita tidak tahu apa yang ada di depan," jawab Valen dengan nada tenang. "Komandan, apa rencanamu?"

Kane duduk di dekat api, matanya menatap ke arah gelap hutan. "Medan ini mengarah ke tujuan kita. Kita akan ikuti medan itu sampai kita menemukan Milo."

"Komandan, apakah penduduk asli akan mempersulit kita lagi ?" Tanya Darius.

"Kita tidak akan membiarkannya terjadi lagi. Kita akan membasmi mereka semua, membalas kematian dua anggota kita." Kata Kane dengan sangat marah.

Tiba-tiba, suara jeritan memecah keheningan malam.

"Tolong! Tolong aku!"

Semua orang langsung siaga. Kane mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua diam.

"Arah suara itu?" tanyanya pelan namun tegas.

Freya memandang sekitarnya. "Suaranya berasal dari arah timur laut. Seharusnya tidak jauh dari sini.

Kane mengangguk. "Freya, kau tetap di sini bersama Lyra dan lindungi perkemahan. Valen, Kael, Darius, ikut denganku."

Meski Freya ingin protes, tatapan tajam Kane membuatnya mengurungkan niatnya. Sementara itu, Kane dan tiga prajuritnya segera bergerak cepat menuju arah suara.

Setelah berjalan melewati semak-semak gelap, mereka sampai di sebuah bukit kecil. Kane menghentikan langkahnya, memberi isyarat agar yang lain diam. Di atas bukit itu, di bawah cahaya bulan, mereka melihat sosok besar bersayap melayang di udara.

Makhluk itu seperti gabungan burung hantu dan kelelawar raksasa, tubuhnya bersisik hitam, dengan mata besar bercahaya merah dan cakar tajam yang mencengkeram seorang wanita. Sayapnya yang lebar mengepak kuat, membuat udara di sekitarnya bergetar.

"Makhluk mutasi," gumam Kael.

"Lihat itu di kakinya!" Bisik Valen.

Makhluk itu melayang ke arah sebuah gua di sisi bukit. Wanita yang dicengkeramnya meronta-ronta, berteriak ketakutan.

"Kita tidak perlu menyelamatkannya, komandan. Wanita itu akan memperlambat misi kita." Bisik Valen.

"Valen benar komandan. Kita tidak bisa mengambil resiko dan ikut campur mengenai penduduk di sini." Bisik Darius yang setuju dengan Valen.

"Kita akan menyelamatkannya. Dia bisa memberikan informasi kepada kita mengenai wilayah ini dan kita bisa mencari informasi mengenai Milo. Kita akan membunuhnya setelah dia tidak ada gunanya untuk kita." kata Kane sambil mengeluarkan senjatanya.

"Baik komandan, tapi makhluk itu bisa terbang," ujar Valen yang menyetujui pendapat komandannya. "Jika kita menyerang sembarangan, wanita itu mungkin akan jatuh."

"Kita harus mendekat ke gua itu dulu," kata Kane. "Kita serang makhluk itu saat dia sudah di bawah."

Mereka berlari menuju gua, berusaha tetap berada di bayangan pepohonan agar tidak terlihat oleh makhluk itu. Ketika mereka sampai di dekat pintu masuk gua, makhluk itu sudah mendarat di dalam, meletakkan wanita tersebut di atas tumpukan batu besar.

Wanita itu menangis, mencoba merangkak pergi, tetapi makhluk itu mendekat, mengeluarkan suara menggeram rendah, memamerkan taring tajamnya.

"Valen, cari sudut untuk membidik sayapnya," kata Kane. "Kael, siapkan posisi di pintu masuk. Darius, kau dan aku akan menyerang langsung."

Valen mengangguk dan bergerak ke posisi tinggi disisi gua, menyiapkan senjata lasernya. Kael mulai bersiap di samping pintu masuk dengan tongkat listriknya, dia bersiap untuk menyerang jika makhluk itu melarikan diri keluar membawa wanita tersebut.

"Sekarang!" teriak Kane.

Valen menembakkan senjata lasernya, menembus salah satu sayap makhluk itu dengan menyisakan lubang kecil pada sayapnya dengan aroma terbakar. Makhluk itu meraung kesakitan, berbalik dengan marah ke arah Valen. Pada saat yang sama, Kane dan Darius menyerang dari sisi yang berlawanan.

Kane melompat, mengayunkan pisaunya ke salah satu kaki makhluk itu, berusaha menjauhkannya dari wanita itu. Sementara Darius menyerang tubuhnya dengan tongkat listrik, tetapi kulit bersisik makhluk itu terlalu keras, sehingga hanya memberikan dampak kecil.

Makhluk itu mengamuk, mengepakkan sayapnya dengan kuat, menciptakan hembusan angin yang membuat Valen di ketinggian hampir kehilangan keseimbangan di posisinya.

"Kita harus melumpuhkannya lebih cepat!" teriak Kael dari pintu masuk.

Makhluk itu menyerang Kane dengan cakarnya, tetapi Kane berhasil menghindar dengan lompatan ke belakang, pisaunya menggores sayap yang lain.

Darius memanfaatkan momen itu untuk mendekati wanita yang masih terbaring ketakutan di atas batu besar.

"Kita harus keluar sekarang!" kata Darius sambil menariknya berdiri.

Wanita itu mengangguk, meski tubuhnya masih gemetar. Darius membawanya ke pintu masuk gua, tetapi makhluk itu melihat mereka. Dengan gerakan cepat, makhluk itu meluncur ke arah mereka.

"Darius! Awas!" teriak Kael.

"Tembak sekarang!" Perintah Kane.

Kael, Darius, Valen dan Kane segera menembak makhluk itu dengan menggunakan senjata laser mereka dan mengenai beberapa titik di tubuh makhluk mutasi itu.

Makhluk itu terhuyung, sayapnya berkibar tak terkendali dengan luka bakar parah, lalu akhirnya jatuh ke tanah dengan suara keras.

Kane mendekat dan memeriksa makhluk mutasi itu. Dia melompat ke atas punggung makhluk itu dan memeriksa untuk mencari tahu apakah ada yang bisa di manfaatkannya. Setelah memeriksa dan tidak mendapatkan yang diinginkan, dia turun dari punggung makhluk itu, lalu menembak kepalanya lagi, memastikan makhluk itu tidak bergerak lagi. Dia menatap wanita yang masih gemetar di samping Darius.

"Kau aman sekarang," katanya. "Siapa namamu?"

Wanita itu terengah-engah, mencoba menenangkan diri. "Sherly… Namaku Sherly. Terima kasih sudah menyelamatkanku."

Kane mengerutkan dahi, menatap wanita itu dengan curiga. "Kau penduduk pulau ini, kan?"

Sherly memperhatikan pakaian mereka dan menebak jika mereka berasal dari tempat lain. Sherly menggeleng. "Tidak… Aku bukan penduduk asli disini. Aku… tersesat ditempat ini."

Kane terdiam sejenak, lalu menoleh ke Valen dan Kael. "Bawa dia ke perkemahan. Kita perlu bicara."

Mereka semua meninggalkan gua itu, tetapi pikiran Kane terus berputar. Jawaban Sherly menunjukkan dia tahu sesuatu yang mereka tidak ketahui, dan Kane berniat untuk mencari tahu kebenarannya.

Setelah situasi tenang, Sherly memperhatikan kembali pakaian Kane dan pasukannya. Matanya terlihat bersinar, dan dia melangkah mendekat. "Kalian… bukan dari sini, kan?" tanyanya dengan nada penuh penasaran.

Kane mengerutkan dahi. "Bagaimana kau tahu?"

Sherly tersenyum lemah. "Pakaian kalian… peralatan kalian… semuanya terlihat terlalu modern untuk dunia ini. Apa kalian dari dimensi lain?"

Kata-kata itu membuat Kane dan pasukannya saling bertukar pandang.

"Bagaimana kau tahu tentang dimensi lain?" tanya Valen dengan tajam.

Sherly menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Karena aku juga dari dimensi lain. Aku tersesat di sini beberapa bulan lalu."

Kane mendekat, menatap penampilan Sherly dari kaki hingga wajahnya. Kane lalu bertanya dengan sorot mata tajam dan penuh intensitas. "Sherly," matanya menyipit. "Jika kau benar-benar dari dimensi lain, mungkin kau bisa memberikan informasi yang kami butuhkan."

Sherly mengangguk. "Tentu saja. Tapi aku juga punya permintaan."

